Sabtu, 23 Mei 2009

TELEVISI DAN PENDIDIKAN

Televisi Pendidikan

Televisi Pendidikan adalah medium yang sangat bagus untuk membagi informasi dan bahan pendidikan kepada masyarakat secara luas. Teknologi terbaru termasuk komputer dan Internet sudah menjadi pilihan utama untuk teknologi pendidikan, dan ada beberapa orang yang kira televisi adalah teknologi lama. Tetapi, potensi Televisi Pendidikan untuk membawa pendidikan ke semua masyarakat di mana mereka duduk, belum begitu tercapai.

Di website ini kami menyediakan venue untuk pendidik-pendidik di lapangan supaya mereka dapat membahas hal-hal terkait dengan televisi pendidikan, memasang sumber-sumber bahan pendidikan pribadi atau link-link ke situs mereka, dan video-clip yang pendek mengenai praktek pengajaran untuk membantu guru-guru lain di lapangan.

Kami berharap partisipasi dari pendidik-pendidik dari semua negara untuk memajang idea-idea dan hasil praktek-praktek baru di sini. Salah satu kesempatan untuk membuka diskusi adalah forum kami:

BISNIS DAN PENDIDIKAN

Memang "Indonesia Bisa!" Tetapi kapan? Kapan kita akan memberantas kebudayaan korupsi, yang bukan kebudayaan bangsa, dan mulai bekerjasama untuk membantu rakyat dan negara kita, daripada mencari kesempatan untuk mengeksploitasi rakyat dan 'memperkosa' negara kita? Kapan kita akan memberantas korupsi yang menjajah dan membunuh masa depan negara kita maupun masa depan anak-anak kita? Kalau mulai sekarang semoga tahun depan kita betul dapat merayakan Hari Kebangkitan Nasional dengan penuh harapan dan semangat tinggi. Maju Indonesia - Maju!

  • Sekolah dan Kampus Umum
    Produk adalah siswa-siswi (rakyat) yang bermutu dan siap menghadapi tantangan masa depan (kerja atau pendidikan lanjut). Ingat bahwa akhirnya semua siswa-siswi ingin bekerja dan kita wajib untuk melengkapi pendidikan mereka dengan
    banyak macam keterampilan yang dapat meningkatkan kemampuan di lapangan kerja (untuk lulusan SD-SMA juga PT)
    Best Practices (Manjemen yang Terbaik) dari dunia bisnis dapat digunakan di sekolah dan kampus untuk menjamin mutu produk kita adalah sebaik mungkin dengan dana yang ada (tanpa korupsi).
    Keuntungan adalah peningkatan mutu SDM dan kemajuan negara maupun meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

  • Sekolah dan Kampus Swasta

    Sama dengan di atas "Sekolah dan Kampus Umum" tetapi keuntungan dapat termasuk finansial oleh beberapa macam cara.

  • Sekolah dan Kampus Luar Negeri

    Sama dengan di atas "Sekolah dan Kampus Umum" tetapi keuntungan jelas termasuk keuntungan finansial untuk negara maupun sekolah target. Pendidikan Internasional termasuk bisnis yang paling besar di dunia, dan pemerintah kita harus berjuang juga untuk meningkatkan jumlah pelajar internasional yang sekolah atau kuliah di Indonesia.

    Indonesia mempunyai banyak keuntungan dan daya tarik untuk pelajar dari luar negeri. Tidak hanya di bidang kebudayaan tetapi dalam internasional studies (negara sedang berkembang), politikal studies, parawisata, dll. Pelajar-pelajar internasional juga dapat menguntungkan kita oleh input dan feedback yang sangat releven karena mereka belajar mengenai isu-isunya di negara kita.

    Keuntungan negara kita dari pelajar kita yang belajar di luar negeri termasuk informasi yang terbaru, maupun pengertian bagaimana informasi dapat digunakan dalam konteks kebudayan.

Bisnis Adalah Bisnis, keahliannya adalah bisnis, tujuannya adalah bisnis, bukan pendidikan. Walapun mereka dapat mempunyai staf khusus bidang pendidikan tugasnya tetap dibawah payung business. Tujuan utama selalu adalah bisnisnya. Misalnya perushaan yang menawarkan produk-produk pembelajaran atau teknologi. Semua produk perlu diuji coba dan dinilai oleh DepDikNas dan Guru-Guru di lapangan (yang di utamakan guru) sebelum kita dapat percaya bahwa produk ini betul bermanfaat.

Kita sendiri juga harus selalu membandingkan kepentingan produk itu dengan kebutuhan lain. Misalnya, apakah
memasang Internet adalah hal penting kalau sekolah lagi ambruk dan mengancam keselamatan pelajar maupun guru kita, atau belum punya listrik?

DepDikNas Adalah Akar Pendidikan dan selain mengurus mutu pendidikan yang sebaik mungkin harus sebagai contoh best practice melaksanakan pendidikan di negara kita. Ini termasuk contoh pelayanan dan moral yang pasti bebas dari korupsi dan kolusi yang dapat sangat dipengaruhi oleh kepentingan bisnis.

Kami selalu merinding kalau mendengar bahwa DepDikNas akan bekerjasama bisnis. Mengapa jadi kerjasama? Sistem Tender? Data Akontabilitas, Isu-Isu Transparansi dan Anggaran Secara Rinci biasanya tidak kelihatan.

Memang di negara maju pemerintah menjaga jarak jauh dari sektor bisnis karena takut bauh kolusi. Ini sampai kalau sekolah bertanya mengenai produk-produk teknologi untuk sekolah, mereka dilarang (oleh hukum) untuk menyebut barang atau perusahaan tertentu. Sekolah-sekolah harus membandingkan fitur produk-produk sendiri, atau mencari informasi dan pengalaman dari sekolah-sekolah yang lain.

KOMPUTER LAPTOP MASUK SEKOLAH

Di bawah ada saran-saran terhadap penggunaan Komputer Laptop di salah satu sekolah (National Plus) di Indonesia. Kita terus menerima informasi (seringkali retorika) mengenai hebatnya teknologi untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, tetapi kami sudah mulai sangat ragu-ragu karena kelihatannya terlalu banyak siswa-siswi sekarang sibuk main games dan menggunakan Internet di luar sekolah untuk "chatting", mencari jodoh dan kegiatan-kegiatan yang tidak sama sekali berhubungan dengan pelajaran. Apakah kegiatan-kegiatan begini hanya menghabiskan waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar di rumah?

Bagaimana dengan "membawa Komputer Laptop ke sekolah"? Apakah membawa laptop ke sekolah dapat membantu meningkatkan mutu pendidikan siswa-siswi kita?

Di bawah ada cerita dari salah satu guru asing (Amerika/Rusia), yang berpendidikan S3 (Rusia), dengan latar belakang teknologi (di banyak negara), mengenai pengalaman beliau sebagai “International Principal” (kepala Sekolah Internasional) di sala satu sekolah National Plus di Indonesia (Desember 2007).

PERPUATAKAAN SEKOLAH DAN LINGKUNGAN


Apakah ini seperti perpustakaan anda?

Pada tahun 1998-2000 kami melaksanakan penelitian untuk meningkatkan mutu peran teknologi dalam pelajaran bahasa di Sekolah Menengah Umum. Kami mengujungi ratusan sekolah di pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Salah satu hal yang sangat terkait dengan pengembangan teknologi dan bahasa adalah fasilitas dan sumber bahan bahasa yang ada di perpustakaan sekolah. Apakah perpustakaan sekolah anda seperti perpustakaan di foto?

Dari penelitian kami delapan faktor muncul yang sangat mengagetkan:

  1. Biasanya tidak ada siswa-siswi di dalam perpustakaan.
  2. Perpustakaannya hanya buka pada jam kelas (paling tambah 15 minet).
  3. Guru-guru tidak secara rutin menyuruh siswa-siswi dalam jam kelas ke perpustakaan untuk tugas, mencari informasi atau solusi sendiri.
  4. Jelas, guru-guru tidak dapat minta siswa-siswi mencari informasi di perpustakaan di luar jam kelas karena perpustakaannya tidak buka.
  5. Guru-guru sendiri jarang kunjungi perpustakaan, dan kurang tahu isinya.
  6. Seringkali pengelola perpustakaan adalah guru yang juga jarang ada di perpustakaan.
  7. Pada umum, pengelola perpustakaan kelihatannya tidak mempromosikan perpustakaannya (atau berjuang untuk meningkatkan minat baca) secara aktif dan kreatif.
  8. Lingkungan sekolah (termasuk rakyat) kurang aktif membangunkan perpustakaan.

Sebenarnya Perpustakaan Sekolah Begini Hanya Sebagai "Gudang Buku" !

Kebiasaan ini belum merubah di kebanyakan sekolah sampai sekarang.

Padahal Perpustakaan Seharusnya Sebagai "Jantung Sekolah
".
Banyak siswa-siswi belajar dalam keadaan sulit di rumah, karena tempatnya sempit, ada adik-adik yang suka menggangu, mereka sering harus belajar di meja makan sesuai dengan waktu tidak dipakai, mereka tidak dapat belajar bersama teman-teman sekelas, dll.

Mengapa perpustakaan sekolah tidak buka satu sampai dua jam setelah jam kelas? Misalnya tutup jam 3 atau 3.30. Dari pengalaman kami alasan-alasan yang muncul adalah banyak! Masalah yang disebut termasuk; biaya karyawan, sekuriti, kendaraan untuk siswa, dll. Tetapi tidak ada alasan sebenarnya, dan untungannya untuk siswa-siswi kalau buka adalah banyak!

Perpustakaan juga sangat cocok untuk sebagai tempat di mana siswa-siswi dapat mengakses sumber-sumber informasi di Internet di luar jam kelas karena di awasi (melindungi siswa-siswi dari situs, kekerasan, porno, dll), dan siswa-siswi dapat dibantu oleh pustakawan/wati tanpa kebutuhan staf khusus.

Sering perpustakaan diurus oleh karyawan Tata Usaha (TU). Kita hanya perlu salah satu staf TU yang masuk 2 jam lebih siang dan pulang 2 jam lebih sore, tidak kena biaya. Kalau ada staf perpustakaan yang khusus - dibuat shift saja. Seringkali masuk lebih siang dan pulang lebih sore adalah keadaan yang cocok untuk anggota staf tertentu.

Yang kami melihat, di kebanyaan sekolah staf sekuriti sudah bertugas sampai sore. Kalau tidak, sistem shift juga dapat dilakukan.

Kalau masalahnya ada kendaraan, ini dapat dinegosiasi oleh staf sekolah. Biasanya bisnis dari siswa-siswi sekolah adalah sangat penting kepada perusahaan kendaraan, supir angkot, tukang becak, atau tukang ojek, dan mereka akan fleksibel.

Kami belum membahas hal "jumlah atau jenis koleksi buku", yang biasanya sangat kurang. Tetapi selama perpustakaan sekolah hanya sebagai "gudang buka" jumlah buku dan peraturan buku (Sistem/Katalog) tidak termasuk hal-hal utama.

Kita harus berjuang untuk mengatasi isu-isu (1-8 di atas yang tidak kena biaya) dan meningkatkan minat, kesempatan, dan kebiasaan baca. Kalau belum, perpustakaannya akan gagal sebagai jantung sekolah. Kebiasaan baca adalah kunci untuk mengembangkan pengetahuan dan pendidikan kita terus selama hidup (lifelong learning).

"Perpustakaan Online" tidak sebagai pilihan yang rialistik untuk mayoritas siswa-siswi tingkat sekolah (atau masyarakat) di Indonesia karena mereka tidak punya komputer atau akses ke Internet di rumah. Waktu untuk menggunakan komputer di sekolah adalah sangat terbatas, dan untuk "print" (cetak) dokumen-dokomen atau ebook dari Internet adalah sangat mahal dibanding dengan pinjam buku dari perpustakaan "yang gratis".

Buku-buku di perpustakaan sekolah dapat dipinjam dan dibaca kapan saja, di mana saja (di becak, di tempat tidur), dan buku-buku perpustakaan sekolah dapat "diakses oleh semua siswa-siswi secara adil". Ayo, membangun perpustakaan sekolah yang lengkap dengan akses di luar jam kelas.

ILMU TEKNOLOGI PENDIDIKAN tentang sekolah tak mampu menanggulangi situs porno

Sekolah tak Bisa Tangkal Situs Porno


JAKARTA -- Situs porno yang menyebar di dunia maya ternyata menjadi ancaman serius bagi dunia pendidikan. Bahkan sekolah yang menjadi tempat siswa mempelajari dan mempraktikan internet tak bisa menangkal serangan situs amoral tersebut.

''Sekolah jelas tak bisa menangkal karena ada 1,3 miliar halaman situs porno yang tersedia lewat jaringan internet,'' ungkap Romy Satria Wahono, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada acara diskusi bertajuk 'Siapkah Sekolah Menerima Internet?' di Jakarta, Kamis (27/12).

( )
------------------------------------------------------
Sumber: Republika Online
Jumat, 28 Desember 2007


Siapkan Sekolah Menerima Internet?
by Romi Satria Wahono
"Menariknya, Indonesia dengan penetrasi Internet yang relatif rendah (8%), tapi memiliki nama yang terang benderang dalam dunia cybercrime Ini sebenarnya karena anak muda kita punya potensi yang bagus, tapi kurang adanya ajang untuk berkompetisi secara legal. Sedangkan pornografi sendiri bisa dicegah dengan tiga cara: hukum, teknologi dan socio-culture. Hukum dan teknologi relatif kurang efektif, dan boleh dikatakan bahwa pendekatan socio-culture, yaitu dengan membuat sang anak sibuk di Internet dengan berbagai penugasan dan kegiatan kreatif adalah solusi terbaik".

ILMU TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Internet adalah "Alat Bantu", bukan "Solusi Pendidikan" (di tingkat Sekolah). Internet (tanpa bahasa Inggris) sebagai sumber informasi yang sangat terbatas. Bahan pelajaran (dalam bahasa Indonesia) juga sangat sedikit. Kelihatannya kurikulum kita juga tidak berbasis-penelitian, jadi untuk apa Internet di sekolah? Internet di sekolah jelas bukan prioritas kan?

Pendidikan Yang Bermutu adalah:


Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM (Pembelajaran Kontekstual). ("Mampu" termasuk Kreatif)

"Di sejumlah warung internet di Kayuagung diketahui, puluhan kelompok pelajar hampir setiap hari memenuhi warnet untuk bermain game online, bahkan ada siswa yang membolos sekolah demi menyalurkan hobi di dunia maya tersebut."

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengguna Facebook yang masih sekolah berhati-hatilah! Menurut studi yang dilakukan oleh Ohio State University, semakin sering Anda menggunakan Facebook, semakin sedikit waktu Anda belajar dan semakin buruklah nilai-nilai mata pelajaran Anda.
Kami sudah memasang informasi mengenai masalah-masalah seperti in bulan yang lalu. Mohon semua Siswa-Siswi, Mahasiswa-Mahasiswi dan Pendidik membaca:

"Teknologi Sekarang Membuat Beberapa Ancaman Baru Terhadap
Anak-Anak Bangsa Yang Cerdas
"
Pada umum Internet (di luar negeri) digunakan di tingkat sekolah sebagai alat penelitian, bukan sumber pembelajaran. Walapun begitu "Be careful. Teachers interested in integrating the benefits of the Internet into their curriculum should proceed cautiously and methodically. Avoid getting caught up in all of the Internet hype (retorika) and trying to do everything at once. Set small goals and take steps to reach those goals." (Ref: Some Thoughts on the Use of the Internet in Schools)

Catatan: Maaf, tetapi seperti biasa, informasi yang 'aktual' yang berbasis pengalaman, kami hanya dapat ketemu dalam bahasa Inggris.

Apakah kurikulum kita cocok dengan "research approach to learning" (pelajaran berbasis-penelitian), atau masih berbasis-"Asal-Hafal-Saja" ? UN? Mengunakan Internet di kelas perlu kemampuan manajemen dari guru yang sangat tegas (dan siap membagi waktu di luar kelas untuk menyiapkan tugas siswa dan bahan-bahan) supaya siswa-siswi tidak akan membuang jam pelajaran yang sangat terbatas. Soalnya, belum tentu bahan dari sumber lain akan bermutu atau cocok dengan kebutuhan siswa-siswi kita.

Tahun 2008 Bagaimana? "It is the goal of the Foxborough Public Schools to provide a world-class education to all students. ... While there is an enormous amount of useful and valuable information available, due to the global nature of the Internet and the lack of effective control over its content, access brings with it the potential for misuse and abuse." (Ref: Public Schools - Internet Policies (2007) Pada umum Internet masih hanya diangap sebagai sumber Informasi, dan kebanayakan siswa-siswi hanya menggunakan Internet sebagai sistem komunikasi (e-mail, dll), bukan sumber pembelajaran.

Belajar Berdua

E-Learning (lewat Internet) juga sebagai salah satu alat bantu pendidikan untuk situasi yang cocok dan kondusif.
E-Learning adalah strategi yang biasanya lebih cocok untuk pelajar yang lebih matang seperti mahasiswa, yang jauh dari kampusnya atau yang dewasa yang harus menyesuaikan waktu belajar dengan jadwal pekerjaan atau tugas Ibu Rumah Tangga. Di sekolah???

JURNAL PENDIDIKAN NETWORK

Memang "Indonesia Bisa!" Tetapi kapan? Kapan kita akan memberantas kebudayaan korupsi, yang bukan kebudayaan bangsa, dan mulai bekerjasama untuk membantu rakyat dan negara kita, daripada mencari kesempatan untuk mengeksploitasi rakyat dan 'memperkosa' negara kita? Kapan kita akan memberantas korupsi yang menjajah dan membunuh masa depan negara kita maupun masa depan anak-anak kita? Kalau mulai sekarang semoga tahun depan kita betul dapat merayakan Hari Kebangkitan Nasional dengan penuh harapan dan semangat tinggi. Maju Indonesia - Maju!


"Killing Children is Never Legitimate"
"It doesn`t take a PHD in military science to conclude that killing and maiming children and other innocents in the quest to stop the actions of the militant few is not only immoral, it is counter-productive." (Gaza)

Pendidikan Network is Strongly Anti-Violence and we must strive to put an end to violence towards children by all perpetrators.